Rawa administratif yang luas disebut sekolah, permukaan lapangan pendi…
informasi halaman

teks
Rawa administrasi besar yang disebut sekolah, permukaan lapangan pendidikan diwarnai dengan penderitaan para pekerja
Ditulis pada: 12 Juni 2026 | Kolom oleh kritikus isu terkini yang berspesialisasi dalam TI/media
Sekolah, yang merupakan tempat belajar di mana anak-anak mengembangkan impian mereka, diubah menjadi ‘medan perang yang tak tertahankan’ bagi para pekerja yang berkeringat di dalamnya. Guru, penyelenggara, dan pegawai negeri sibuk menangani tugasnya masing-masing di lingkungan sekolah, namun di balik layar, terjadi gangguan komunikasi dan beban kerja yang berlebihan. Terutama di musim panas, gelombang panas yang menyapu kafetaria dan lorong-lorong menjadi bencana lain yang mengancam hak pekerja untuk bertahan hidup. Apakah bidang pendidikan kita benar-benar berfokus pada pendidikan penting bagi siswa, atau terjebak dalam inefisiensi praktik dan administrasi meja yang sudah ketinggalan zaman, sehingga memaksa pekerja untuk berkorban? Kami ingin melihat lebih dalam kontradiksi struktural dalam pendidikan kita dan arah perbaikan melalui seruan yang keluar dari sekolah.
Fakta bahwa para guru, administrator, dan pejabat pendidikan di wilayah Seoul bergandengan tangan dalam solidaritas dengan membentuk 'Asosiasi Alam Pekerja Pendidikan Seoul' untuk pertama kalinya dalam sejarah sangatlah berarti. Sementara itu, konflik tanpa perburuhan di lokasi sekolah mencapai puncaknya akibat apa yang disebut 'administrasi ping-pong' yang mana tugas-tugas administratif saling ditunda, dan akibatnya, komunitas pendidikan menghadapi risiko disintegrasi. Pertemuan gabungan tersebut dengan tajam mengkritik bahwa lonjakan tuntutan administratif seperti pengenalan AI, Neulbom School, dan sistem kredit sekolah menengah telah mendorong total beban kerja sekolah hingga batas maksimalnya, dan bahwa sikap pasif dinas pendidikan sebenarnya memicu antagonisme di antara rekan-rekan. Mereka kini menuntut perubahan kebijakan dari otoritas pendidikan dengan satu suara untuk menghilangkan praktik-praktik yang berpusat pada administrasi yang tidak efisien dan menciptakan budaya sekolah demokratis yang sesuai dengan esensi pendidikan.
Yang membuat para pekerja sekolah semakin menderita adalah kondisi kerja yang buruk selama gelombang panas yang berulang setiap tahun. Menurut survei yang dilakukan oleh Markas Besar Pendidikan dan Kepegawaian Nasional, risikonya telah mencapai titik kritis, dengan lebih dari 80% pekerja kafetaria dan kebersihan mengalami penyakit yang berhubungan dengan panas. Khususnya, praktisi kuliner berjuang mati-matian di depan peralatan memasak yang mendidih sambil mengenakan pakaian sanitasi yang tebal dan sepatu bot, namun tindakan gelombang panas yang diusulkan oleh otoritas pendidikan tidak lebih dari pembacaan termometer dinding yang tidak mencerminkan suhu sebenarnya sama sekali. Menanggapi 'administrasi desktop' ini, para pekerja di seluruh negeri membentuk 'kelompok pemantau gelombang panas' yang secara langsung mengukur suhu dan kelembapan dan berupaya mengamankan data praktis. Langkah mereka untuk membuktikan tidak bertanggung jawabnya otoritas pendidikan dengan mengukur suhu dan kelembapan lapangan bisa dikatakan sebagai mekanisme pertahanan diri minimum untuk bertahan hidup.
Meskipun tingkat pemasangan fasilitas istirahat melebihi 90%, statistik bahwa hanya 35% pekerja yang benar-benar dapat beristirahat dengan baik jelas menunjukkan betapa terbelakangnya sekolah kita dalam hal hak-hak buruh. Kenyataannya, lebih dari 60% pekerja tidak memperhatikan waktu istirahat yang diwajibkan ketika suhu yang dirasakan di atas 33 derajat sesuai pedoman Kementerian Ketenagakerjaan dan Tenaga Kerja. Mengurangi proses memasak dengan suhu tinggi di kafetaria, mengatur pola makan, memasang AC dan menyediakan peralatan pendingin bagi pekerja kebersihan bukanlah tuntutan kesejahteraan sederhana, namun merupakan langkah keselamatan minimum untuk melindungi kehidupan dan kesehatan pekerja. Namun, otoritas pendidikan masih bersikap acuh tak acuh terhadap seruan putus asa dari lapangan, dengan menggunakan anggaran dan prosedur sebagai alasan, menerapkan struktur yang kejam di mana pekerja tidak punya pilihan selain bekerja saat sakit.
Konflik-konflik di bidang pendidikan ini mengarah pada keinginan yang kuat untuk melakukan perubahan dalam administrasi pendidikan yang baru, seperti yang ditunjukkan dalam hasil pemilihan Pengawas Pendidikan Gangwon-do baru-baru ini. Fakta bahwa para guru dan serikat pegawai negeri telah mengirimkan pesan selamat datang membuktikan bahwa menormalisasi pekerjaan sekolah dan menghormati tenaga kerja, yang selama ini terabaikan, adalah tugas zaman yang tidak dapat ditunda lagi. Daripada sekedar membuat janji pemilu, Dinas Pendidikan perlu mengambil sikap berwawasan ke depan dengan mendengarkan suara sekolah dan mengakui serikat pekerja sebagai pemain yang setara dalam bidang pendidikan. Pengawas pendidikan yang dipilih memiliki tanggung jawab besar untuk memulihkan kepercayaan yang rusak antara bidang dan Dinas Pendidikan dengan menciptakan lingkungan di mana anggota pendidikan dapat hidup berdampingan dan menerapkan kebijakan yang memperbaiki diskriminasi yang sudah berlangsung lama dan perlakuan yang tidak masuk akal.
■ Kesimpulan dan pandangan analisis
Sekolah bukan hanya tempat anak-anak belajar, tetapi juga tempat kerja dimana banyak pekerja mencari nafkah. Namun, sekolah yang ada saat ini nyaris tidak mampu bertahan atas dasar dedikasi pekerja, di tengah tidak efisiennya pembagian kerja dan bencana lingkungan seperti gelombang panas. Kini, Dinas Pendidikan harus memimpin pengurangan jumlah tugas sekolah dan mengambil langkah-langkah praktis melawan gelombang panas yang mengutamakan hak hidup pekerja. Selain itu, gerakan solidaritas dan mendobrak sekat-sekat antara guru, penyelenggara, dan pegawai negeri akan menjadi benih harapan bagi komunitas pendidikan yang lebih baik. Mewujudkan sekolah yang dapat mengedepankan hakekat pendidikan dan bidang pendidikan yang menjunjung tinggi harkat dan martabat buruh merupakan misi zaman yang harus diwujudkan demi masa depan anak cucu kita.
* Posting ini adalah komentar dari PlayBBS yang menganalisis istilah pencarian populer Google Trends secara real-time dan artikel utama terkait.
- Posting sebelumnyaTeka-teki terakhir Gangnam, 'situs Mesin Jahit Singa', terlahir kembali sebagai kantor utama senilai 1 triliun won 26.06.12
- posting berikutnyaYeongcheon yang semarak muncul sebagai kota hidup berdampingan di mana budaya dan ekonomi bersatu. 26.06.12
Daftar komentar
Tidak ada komentar terdaftar.
